Roda Kehidupan Berputar dengan Kecepatan Maksimal
AWALNYA cuma satu lantai. Dua tahun ke belakang rumahnya direnovasi jadi dua lantai. Belum sepenuhnya beres, sebagian tembok di lantai dua masih belum diplester. Tapi sudah teduh. Sudah bisa dipakai buat tidur. Barang-barang seperti lemari, meja, kursi, springbed, dan barang-barang elektronik, mungkin sudah dipindahin dari lantai satu ke lantai dua.
Masyarakat di sini juga sudah tahu. Beliau adalah orang pertama yang buka warung di sini. Jadi kalau rumahnya direnov. Masyarakat tidak kaget. Isi warungnya kumplit. Segala ada. Kalau rumahnya ditingkat bisa jadi itu hasil dari jualannya selama ini. Selain itu, berhubung beliau termasuk orang terhormat dari sisi ekonomi, masyarakat sempat memilih beliau jadi ketua RT satu periode.
Yang bikin kaget masyarakat, roda kehidupan ternyata berputar dengan kecepatan maksimal. Sebagai tetangga, kita merasa bagaikan petir di siang bolong saat mendengar kabar, beliau sekeluarga akan pindah keluar kota. Menjelang keberangkatannya bahkan kita diminta sumbangan seikhlasnya untuk membantu biaya transportasi.
Usut punya usut, ternyata warungnya bangkrut. Etalase yang tadinya penuh dengan segala jenis dagangan mulai dari sembako, alat tulis, gas, makanan ringan, eskrim, sabun, sampo, pasta gigi, semuanya dilelang. Rumahnya pun katanya mau dijual. Setiap saya berangkat ke masjid, bangunan dua lantai itu tampak kusam dan ngungun. Di situ saya langsung mengelus dada. Hidup kadang di atas kadang di bawah.
Kepergian beliau, kebangkrutan usahanya, membuat saya bercermin. Saya pikir, saya saja yang mengalami cobaan berat, fluktuasi dari yang tadinya di atas terjun bebas ke jurang paling dasar. Ternyata ada juga yang mengalami cobaan lebih berat. Sampai-sampai beliau harus pergi, terusir dari tempatnya selama ini mengais rezeki.
Dunia bisnis benar-benar kejam. Di zaman sekarang siapa yang paling kuat, akan memangsa yang lemah. Tidak ada lagi yang namanya etika, rasa hormat, tenggang rasa diantara sesama. Semua orang mendadak jadi oportunis dan individualis. Pada mementingkan dirinya sendiri. Dulu kalau ada yang buka warung. Tetangga yang lain tidak pernah kepikiran untuk buka warung.
Sedangkan zaman sekarang. Jangankan terhalang satu dua rumah. Berdempetan atau berhadap-hadapan pun nggak malu buat jualan. Salah satu penyebab kenapa usaha beliau bangkrut, karena ada tetangga yang buka warung sejenis. Orang-orang yang awalnya belanja ke beliau jadi beralih ke warung baru. Barang-barangnya pun jauh lebih kumplit. Kelebihan warung baru, bukanya dari pagi sampai jam 12 malam.
Masyarakat di sini juga sudah tahu. Beliau adalah orang pertama yang buka warung di sini. Jadi kalau rumahnya direnov. Masyarakat tidak kaget. Isi warungnya kumplit. Segala ada. Kalau rumahnya ditingkat bisa jadi itu hasil dari jualannya selama ini. Selain itu, berhubung beliau termasuk orang terhormat dari sisi ekonomi, masyarakat sempat memilih beliau jadi ketua RT satu periode.
Yang bikin kaget masyarakat, roda kehidupan ternyata berputar dengan kecepatan maksimal. Sebagai tetangga, kita merasa bagaikan petir di siang bolong saat mendengar kabar, beliau sekeluarga akan pindah keluar kota. Menjelang keberangkatannya bahkan kita diminta sumbangan seikhlasnya untuk membantu biaya transportasi.
Usut punya usut, ternyata warungnya bangkrut. Etalase yang tadinya penuh dengan segala jenis dagangan mulai dari sembako, alat tulis, gas, makanan ringan, eskrim, sabun, sampo, pasta gigi, semuanya dilelang. Rumahnya pun katanya mau dijual. Setiap saya berangkat ke masjid, bangunan dua lantai itu tampak kusam dan ngungun. Di situ saya langsung mengelus dada. Hidup kadang di atas kadang di bawah.
Kepergian beliau, kebangkrutan usahanya, membuat saya bercermin. Saya pikir, saya saja yang mengalami cobaan berat, fluktuasi dari yang tadinya di atas terjun bebas ke jurang paling dasar. Ternyata ada juga yang mengalami cobaan lebih berat. Sampai-sampai beliau harus pergi, terusir dari tempatnya selama ini mengais rezeki.
Dunia bisnis benar-benar kejam. Di zaman sekarang siapa yang paling kuat, akan memangsa yang lemah. Tidak ada lagi yang namanya etika, rasa hormat, tenggang rasa diantara sesama. Semua orang mendadak jadi oportunis dan individualis. Pada mementingkan dirinya sendiri. Dulu kalau ada yang buka warung. Tetangga yang lain tidak pernah kepikiran untuk buka warung.
Sedangkan zaman sekarang. Jangankan terhalang satu dua rumah. Berdempetan atau berhadap-hadapan pun nggak malu buat jualan. Salah satu penyebab kenapa usaha beliau bangkrut, karena ada tetangga yang buka warung sejenis. Orang-orang yang awalnya belanja ke beliau jadi beralih ke warung baru. Barang-barangnya pun jauh lebih kumplit. Kelebihan warung baru, bukanya dari pagi sampai jam 12 malam.

